Hedonisme, salah satu budaya barat yang berasal dari kata hedone dalam bahasa yunani yang artinya kesenangan atau kepuasan. Jadi hedonisme berarti suatu pola pikir atau aliran yang menjadikan kesenangan ataupun kepuasan jasmani sebagai tujuan hidup seorang manusia. Karena manusia akan mencapai ketenangan bila ia selalu bahagia dan menjauhi sejauh-jauhnya semua hal yang berupa masalah atau stres.
Hedonisme sendiri berkembang dengan sangat pesat, seiring terjadinya revolusi industri di negara barat. Dengan sebuah industri, mereka meraup keuntungan sebanyak-banyaknya agar memperoleh kekayaan. Dan dengan harta kekayaan itu mereka memuaskan diri mereka. Entah dengan rumah dan mobil mewah atau dengan memuaskan nafsu seks mereka. Dan kini, di negara barat hedonisme telah mendarah daging dengan adanya paham sekuler dan liberalnya. Dimana seseorang bebas melakukan segala hal tanpa menggangu orang lain.
“Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan” [Al-An’aam : 29]
Ayat itu menjelaskan betapa pentingnya menggapai kebahagiaan dunia. Karena mereka menganggap bahwa hidup hanya satu kali. Yakni hidup di dunia. Mereka menyangka bahwa mereka tak akan di bangkitkan saat kiamat nanti.
Ayat itu menjelaskan betapa pentingnya menggapai kebahagiaan dunia. Karena mereka menganggap bahwa hidup hanya satu kali. Yakni hidup di dunia. Mereka menyangka bahwa mereka tak akan di bangkitkan saat kiamat nanti.
Di indonesia sendiri perkembangan hedonisme sangat pesat. Hal ini tak lepas dari peranan media yang sangat penting. Para pelaku media mempertontonkan tontonan dari budaya barat berupa ciuman, kehidupan penuh dengan glamour dan bersenang-senang. Sesungguhnya semua itu bukanlah bagian dari budaya kita. Kita bangsa timur, bukanlah bangsa yang sudah tidak mempunyai rasa malu dan terbiasa dengan kehidupan penuh glamour. Hal itu membuat terjadi anomie di masyarakat kita, mereka bingung apakah akan mempertahankan budaya sendiri atau beralih kebudaya negara barat yang penuh glamour dan kebebasan.
Dampak dari media tadi sudah sangat terasa. Dan salah satu korbannya adalah remaja, para remaja saat ini lebih cenderung senang menghabiskan waktunya di mall. Mereka berbelanja ini itu hanya untuk mengikuti mode yang sedang berjalan atau sedang populer. Dan setelah mode itu tidak berlaku mereka meninggalkannya dan beralih ke mode yang baru lagi, dan begitulah seterusya. Selain itu mereka lebih cenderung melakukan hubungan seks di luar nikah meniru idola mereka. Hamil di luar nikah sudah menjadi hal yang biasa. Semua itu menunjukkan bangsa barat telah berhasil mempengaruhi kita dengan budaya-budayanya.
Ada banyak contoh konkret yang dengan mudah kita temukan. Di mana para remaja yang notabene adalah orang dari keluarga kalangan menengah kebawah meminta atau bahkan memaksa orangtuanya untuk membelikan handphone keluaran terbaru, karena mungkin seorang remaja tadi malu di sekolahnya hanya ia yang handphonenya bisa dibilang "jadul". Itu menandakan seorang akan mendapat nilai lebih jika handphone yang ia miliki keluaran terbaru. Padahal ia tak menyadari bagaimana orangtuanya bermandikan keringat untuk menghidupi anak-anaknya, apalagi ditambah dengan handphone yang bukan kebutuhan inti seseorang. Dan sebuah contoh lagi yang lebih ekstrim yaitu seorang wanita yang rela menjual dirinya sendiri untuk membeli barang-barang berteknologi mutakhir atau pakaian dengan mode terbaru. Itu menandakan kemerosotan moral yang sudah sangat mengkhawatirkan sebagai akibat dari kurang berfungsinya peran agama dalam membentuk pribadi seseorang
“Bukan kefaqiran yang aku takutkan menimpa kamu sekalian, akan tetapi yang lebih aku takutkan adalah ketika dihamparkannya kekayaan dunia terhadap kamu sekalian, kemudian kalian menikmati dunia itu sepuas-puasnya, kemudian kalian dihancurkan oleh Allah sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah dibinasakan [HR Bukhari-Muslim].
Dari hadist tersebut, Rasul telah mengetahui bahwa umatnya akan sangat tergila-gila akan harta kekayaan dan tipu daya dunia. Sehimgga mereka melakukan segala cara agar bisa memperoleh harta kekayaan tersebut. Dan ironisnya lagi, banyak dari mereka yang menempuh jalan haram. Entah dengan merampok, mencuri atau bahkan menjual diri.
Dari hadist tersebut, Rasul telah mengetahui bahwa umatnya akan sangat tergila-gila akan harta kekayaan dan tipu daya dunia. Sehimgga mereka melakukan segala cara agar bisa memperoleh harta kekayaan tersebut. Dan ironisnya lagi, banyak dari mereka yang menempuh jalan haram. Entah dengan merampok, mencuri atau bahkan menjual diri.
Tapi kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada para anak muda. Karena semua itu akibat dari sistem yang berjalan di negara ini. Seperti izin mendirikan diskotik, restaurant cepat saji, ataupun bar-bar yang telah menyebar luas di seluruh pelosok negeri, sehingga mempengaruhi anak-anak penerus bangsa kita untuk mendatangi tempat-tempat tersebut dan mengadopsi budaya yang terdapat di dalamnya. Selain itu, peranan media yang sangat penting tadi menambah kemudahan akses budaya hedonisme untuk meracuni bangsa ini.
Di era modern seperti ini salah satu kunci agar terhindar dari bahaya hedonisme adalah lebih mendekatkan diri kepada tuhan. Karena peranan agama saat ini sangat penting untuk membangun moral yang sudah sangat menghawatirkan. Selain itu, peranan orangtua juga tak kalah penting. Karena keluarga merupakan lingkungan pertama seorang bersosialisasi. Sehingga di lingkungan keluargalah pembentukan karakter terjadi.
Written by : Kurniagung Nur Cahyono - SMA Islam Terpadu Abu Bakar (empat orang)










