Banner

SMA Islam Terpadu Abu Bakar

Sekolah ini adalah tempat dimana kami menuntut ilmu.

Guru

Seseorang yang sangat penting bagi negara. Karena jika tidak ada guru, maka tidak ada yang memberikan pengetahuan kepada penerus bangsa.

Jagalah Lingkungan Alam Sekitar Kita

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

INDONESIA

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pemimpin

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 12 Agustus 2011

Membongkar Salah Satu Kedok Budaya Barat

Hedonisme, salah satu budaya barat yang berasal dari kata hedone dalam bahasa yunani yang artinya kesenangan atau kepuasan. Jadi hedonisme berarti suatu pola pikir atau aliran yang menjadikan kesenangan ataupun kepuasan jasmani sebagai tujuan hidup seorang manusia. Karena manusia akan mencapai ketenangan bila ia selalu bahagia dan menjauhi sejauh-jauhnya semua hal yang berupa masalah atau stres.

Hedonisme sendiri berkembang dengan sangat pesat, seiring terjadinya revolusi industri di negara barat. Dengan sebuah industri, mereka meraup keuntungan sebanyak-banyaknya agar memperoleh kekayaan. Dan dengan harta kekayaan itu mereka memuaskan diri mereka. Entah dengan rumah dan mobil mewah atau dengan memuaskan nafsu seks mereka. Dan kini, di negara barat hedonisme telah mendarah daging dengan adanya paham sekuler dan liberalnya. Dimana seseorang bebas melakukan segala hal tanpa menggangu orang lain.

“Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan” [Al-An’aam : 29]
Ayat itu menjelaskan betapa pentingnya menggapai kebahagiaan dunia. Karena mereka menganggap bahwa hidup hanya satu kali. Yakni hidup di dunia. Mereka menyangka bahwa mereka tak akan di bangkitkan saat kiamat nanti.

Di indonesia sendiri perkembangan hedonisme sangat pesat. Hal ini tak lepas dari peranan media yang sangat penting. Para pelaku media mempertontonkan tontonan dari budaya barat berupa ciuman, kehidupan penuh dengan glamour dan bersenang-senang. Sesungguhnya semua itu bukanlah bagian dari budaya kita. Kita bangsa timur, bukanlah bangsa yang sudah tidak mempunyai rasa malu dan terbiasa dengan kehidupan penuh glamour. Hal itu membuat terjadi anomie di masyarakat kita, mereka bingung apakah akan mempertahankan budaya sendiri atau beralih kebudaya negara barat yang penuh glamour dan kebebasan.

Dampak dari media tadi sudah sangat terasa. Dan salah satu korbannya adalah remaja, para remaja saat ini lebih cenderung senang menghabiskan waktunya di mall. Mereka berbelanja ini itu hanya untuk mengikuti mode yang sedang berjalan atau sedang populer. Dan setelah mode itu tidak berlaku mereka meninggalkannya dan beralih ke mode yang baru lagi, dan begitulah seterusya. Selain itu mereka lebih cenderung melakukan hubungan seks di luar nikah meniru idola mereka. Hamil di luar nikah sudah menjadi hal yang biasa. Semua itu menunjukkan bangsa barat telah berhasil mempengaruhi kita dengan budaya-budayanya.



Ada banyak contoh konkret yang dengan mudah kita temukan. Di mana para remaja yang notabene adalah orang dari keluarga kalangan menengah kebawah meminta atau bahkan memaksa orangtuanya untuk membelikan handphone keluaran terbaru, karena mungkin seorang remaja tadi malu di sekolahnya hanya ia yang handphonenya bisa dibilang "jadul". Itu menandakan seorang akan mendapat nilai lebih jika handphone yang ia miliki keluaran terbaru. Padahal ia tak menyadari bagaimana orangtuanya bermandikan keringat untuk menghidupi anak-anaknya, apalagi ditambah dengan handphone yang bukan kebutuhan inti seseorang. Dan sebuah contoh lagi yang lebih ekstrim yaitu seorang wanita yang rela menjual dirinya sendiri untuk membeli barang-barang berteknologi mutakhir atau pakaian dengan mode terbaru. Itu menandakan kemerosotan moral yang sudah sangat mengkhawatirkan sebagai akibat dari kurang berfungsinya peran agama dalam membentuk pribadi seseorang



“Bukan kefaqiran yang aku takutkan menimpa kamu sekalian, akan tetapi yang lebih aku takutkan adalah ketika dihamparkannya kekayaan dunia terhadap kamu sekalian, kemudian kalian menikmati dunia itu sepuas-puasnya, kemudian kalian dihancurkan oleh Allah sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah dibinasakan [HR Bukhari-Muslim].
Dari hadist tersebut, Rasul telah mengetahui bahwa umatnya akan sangat tergila-gila akan harta kekayaan dan tipu daya dunia. Sehimgga mereka melakukan segala cara agar bisa memperoleh harta kekayaan tersebut. Dan ironisnya lagi, banyak dari mereka yang menempuh jalan haram. Entah dengan merampok, mencuri atau bahkan menjual diri.

Tapi kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada para anak muda. Karena semua itu akibat dari sistem yang berjalan di negara ini. Seperti izin mendirikan diskotik, restaurant cepat saji, ataupun bar-bar yang telah menyebar luas di seluruh pelosok negeri, sehingga mempengaruhi anak-anak penerus bangsa kita untuk mendatangi tempat-tempat tersebut dan mengadopsi budaya yang terdapat di dalamnya. Selain itu, peranan media yang sangat penting tadi menambah kemudahan akses budaya hedonisme untuk meracuni bangsa ini.

Di era modern seperti ini salah satu kunci agar terhindar dari bahaya hedonisme adalah lebih mendekatkan diri kepada tuhan. Karena peranan agama saat ini sangat penting untuk membangun moral yang sudah sangat menghawatirkan. Selain itu, peranan orangtua juga tak kalah penting. Karena keluarga merupakan lingkungan pertama seorang bersosialisasi. Sehingga di lingkungan keluargalah pembentukan karakter terjadi.

Written by : Kurniagung Nur Cahyono - SMA Islam Terpadu Abu Bakar (empat orang)

Kamis, 11 Agustus 2011

Hari Gini Masih Minta Ortu? No Way!

Di zaman globalisasi ini udah ga musimnya lagi masih selalu mintain uang ke orang tua kita. Untuk alasan inilah atau itulah. Padahal untuk sebagian orang tua itu sangat membebani mereka. Kalian ngga mau kan kalo itu selalu terjadi. Trus gimana dong solusinya? Nah salah satu jalan keluarnya yaitu dengan berwirausaha sobat. Tapi ngga sembarangan wirausaha juga, karena kita harus memilih wirausaha yang ngga mengganggu sekolah kita, ngga mengganggu waktu belajar kita dan ngga terlalu membebani kita.

Kenapa sih kita ngga langsung berwirausaha aja? Kenapa harus sekolah dulu? Nah sobat sekalian, hal seperti ini pernah dikatakan oleh seorang pengusaha sukses di Indonesia. Dia adalah Om Bob Sadino. Dia berkata begini, "Mau kaya? Berhentilah sekolah atau berhentilah kuliah sekarang juga, and start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan." Memang ada benernya juga statement dari beliau, tapi masa iya? Nah akhirnya ada statement juga yang menanggapi peernyataan dari Om Bob ini. Dia berkata begini, "Berhati-hatilah dengan orang yang membanggakan keberhasilannya walaupun dia berpendidikan rendah. Itu tidak boleh dijadikan dalil. Pendidikan itu penting. Buktinya, dengan pendidikan yang sedikit saja, dia bisa berhasil, apalagi jika dia terdidik dengan lebih baik. Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina? Dengan ilmu, segala sesuatu bisa mencapai kualitas tertingginya." Yup, dia adalah sang motivator handal di Indonesia yaitu Mario Teguh. Memang sih kerja keras itu penting namun pendidikan jauh lebih penting kan?

Trus kita harus wirausaha apa dong? Banyak sekali peluang bisnis yang bisa kita pilih di era globalisasi. Tanpa mengganggu sekolah dan belajar kita. Berikut beberapa contoh wirausaha yang bisa kita lakukan:

1.    Les Privat
Untuk pelajar yang sudah SMA, bisa membuka les privat untuk bidang-bidang studi yang penting bagi murid SMP atau SD. Bidang studi yang bisa dijadikan sebagai lahan les privat adalah matematika, bahasa inggris, Science, dan sebagainya. Syarat untuk membuka les privat adalah otak yang encer, sabar dan telaten, serta komunikatif. Peserta les privat ini bisa diajak dari tetangga-tetangga sekitar, terutama yang akan mendekati ujian.

2.    Usaha pernak-pernik
Pelajar kreatif bisa membuka usaha pernak-pernik, seperti bando, bross, ikat rambut, pin, dan sebagainya. Pelajar bisa menjual hasil usahanya kepada teman-teman sekelas dan juga teman-teman kelas tetangga. Modal utama dalam usaha pernak-pernik ini adalah kretivitas dan tahan banting. Kreativitas karena pernak-pernik yang kreatif dan lucu-lucu banyak diminari pelajar. Tahan banting karena di awal-awal usaha sering mandek alias tak ada pemasukan.

3.    Penulis
Pelajar yang hobi menulis, baik fiksi maupun nonfiksi, bisa menjual tulisannya kepada penerbit untuk dibukukan. Jikalau pun tidak dibukukan, hasil karya tersebut, terutama cerpen dan puisi, tetap dapat menghasilkan uang yaitu dengan mengirimkannya ke koran atau majalah. Akan tetapi, untuk hal ini, teman-teman pelajar harus "pantang menyerah" karena seringkali tulisan tidak dimuat oleh pihak koran atau majalah. Memang, kata kunci untuk menjalani bisnis sebagai penulis adalah skill menulis, pengetahuan yang luas, dan pantang menyerah.

4.    Distributor pakaian
Bagi teman-teman yang sering "jajan baju" ke daerah malioboro atau daerah lain bisa memanfaatkan hal ini sebagai suatu wirausaha baru. Dengan ini, teman-teman pelajar di daerah yang berbeda pun bisa mendapatkan pakaian model terbaru dengan harga yang miring.

5.    Jual Beli Buku Loak dan Jasa Photocopy
Pelajar bisa memanfaatkan buku-buku pelajaran yang sudah tidak tepakai lagi untuk dijual ke adik-adik kelas. Jika mau, ajak kakak kelas untuk ikut berkontribusi sehingga buku-buku dari kakak kelas pun bisa dijual ke teman-teman seangkatan. Atau bisa juga lewat jasa photocopy dimana teman-teman pelajar bisa mendapatkan keuntungan karena membantu teman-teman lain mendapatkan tempat photocopy dengan mudah dan murah.

6.    Online advertiser
Online advertiser merupakan bisnis di dunia maya alias internet. Caranya mudah yaitu tinggal membuat website atau blog. Pada website atau blog itu, pasangi suatu iklan seperti  Google Adsense, kumpulblogger, direct ads, ziddu.com, dan lain-lain. Selanjutnya tinggal menarik pengunjung sebanyak-banyaknya agar meng-klik iklan tersebut sehingga pemilik website atau blog pun mendapat komisi. Sekali dan sebulan, cek pembayaran. Jika serius dalam usaha ini, pelajar bisa jadi online businessman beneran.

7.    Jasa Design
Pelajar-pelajar yang kreatif dan hobi design bisa menjual designnya kepada orang lain. Design-design tersebut dapat diciptakan melalui pin, stiker, poster, kalender, ID-card, wesite, template, dan sebagainya. Apalagi dengan adanya kecanggihan teknologi, bisnis jasa design akan semakin mudah.

Trus kalo omsetnya cuma sedikit? Sobatku sekalian, ngga semua wirausaha harus mendapatkan keuntungan yang banyak. Apalagi kita masih remaja dan masih dalam proses pembelajaran sehingga usaha-usaha kita di masa ini akan menjadi bekal kita dalam menghadapi masa depan kelak. Toh ngga masalah dengan omset sedikit daripada tidak.

Nah gimana sobat, wirausaha nggak serumit yang kita kira kan. Namun kita juga tetap harus lebih mementingkan pendidikan yang nantinya akan bisa menunjang jiwa bisnis kita di masa depan.

Written by : Faisal Arifian Kaeliana - SMA Islam Terpadu Abu Bakar (empat orang)

Senin, 08 Agustus 2011

Biarkan Mereka. . TETAP LIAR!!

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN
NOMOR : P.53/Menhut-II/2006

Dalam butir kelima tertulis "Kebun Binatang adalah suatu tempat atau wadah yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga konservasi yang melakukan upaya perawatan dan pengembangbiakan berbagai jenis satwa berdasarkan etika dan kaidah kesejahteraan satwa dalam rangka membentuk dan mengembangkan habitat baru, sebagai sarana perlindungan dan pelestarian jenis melalui kegiatan penyelamatan, rehabilitasi dan reintroduksi alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi yang sehat;"

Dari kutipan diatas seharusnya kebun binatang merupakan tempat konservasi eks-situ yang menampung binatang-binatang liar yang habitatnya di rusak oleh manusia demi kepentingan bisnis. Binatang tadi dirawat, dilindungi, dan di kembangbiakkan di situ. Manfaat lain dari kebun binatang merupakan tempat untuk berekreasi serta sebagai sarana edukasi bagi anak-anak khususnya pelajar. Biasanya di dalam kebun binatang tersebut banyak terdapat berbagai macam satwa-satwa liar yang dilindungi karena keberadaannya hampir punah. Kemudian disana juga terdapat sirkus dari binatang yang sudah dilatih. Mereka menampilkan berbagai atraksi yang umumnya hanya bisa di lakukan manusia atau bahkan hanya sebagian orang yang dapat melakukannya. Atraksi para binatang tadi sangat menarik para wisatawan. Sehingga membuat kebun biatang selalu ramai oleh pengunjung.


Tapi taukah anda apa yang ada di balik semua itu? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh COP (Centre for Orangutans Protection) dengan meneliti kondisi urangutan di berbagai kebun binatang di Indonesia. Dan hasil dari penelitian tesebut secara umum tidak baik. Mungkin jika di adakan penelitian tentang satwa lain hasilnya akan sama. Karena mereka hidup pada tempat yang sama. yaitu di balik jeruji besi dengan ruangan yang sempit. Saya di sini akan mengambil sampel tentang orangutan. Kita tahu jika orangutan adalah hewan primata yang suka bergelantungan di pohon. Oleh karena itu, orangutan membutuhkan pohon-pohon tinggi dan bercabang agar mereka terbebas dari stresdan bergelantungan dengan bebas. Bukan di kandang besi yang didalamnya hanya ada sebatang ranting yang pendek dan di ruangan sempit. Hal ini akan menimbulkan stres dan trauma bagi orangutan. Mereka juga seharusnya berkumpul dengan keluarga besarnya. Bahkan jika hewan itu adalah hewan sirkus, maka dia akan di paksa keras untuk berlatih menunjukkan berbagai macam atraksi.Tak sedikit pula yang mendapatkan siksaan agar mau menuruti perintah sang pelatih sirkus. Apakah seperti tukah yang disebut tempat konservasi? Di mana para penghuninya selalu merasa stres dan dipaksa untuk melakukan suatu hal yang di luar nalurinya. Lalu, di manakah terdapat edukasi di dalamnya? Apakah dengan menatap para binatamg yang menderita adalah sebuah edukasi? Dalam pelajaran biologi, salah satu bab yang terdapat di dalamnya yaitu mempelajari tingkah laku hewan. Hal itu hanya bisa kita dapatkan dengan mempelajarinya lebih dekat di alam bebas. Karena di alam bebas memungkinkan satwa untuk bergerak dan beraktivitas. Bukan dengan menatap binatang yang hanya terdiam dalam sangkar yang sempit.

Maka dari itulah pantas jika kebun binatang disebut sebagai tempat penyiksaan hewan. Karena di dalamnya para binatang tersiksa dengan kandang yang sempit dan tak bebas untuk bergerak. Di dalam kebun binatang, para penghuninya dijadikan sebagai alat pencetak uang dengan mempertontonkan sesuatu yang di luar dari nalurinya. Sesungguhnya binatang bukanlah mainan yang bisa diperjualbelikan atau di gunakan sebagai alat pencetak rupiah. Mereka sama seperti kita. Membutuhkan keebasan, kebahagiaan serta perlindungan dari kita. Dan jika kita ingin mempelajarinya, maka datanglah ke habitat aslinya dan amatilah segala aktivitasnya. Bukan pergi ke kebun binatang dan menatap hewan yang menderita dalam jeruji besi. Itu bukanlah sebuah edukasi atau pendidikan yang benar.


Written by : Kurniagung Nur Cahyono - SMA Islam Terpadu Abu Bakar (empat orang)

Minggu, 07 Agustus 2011

Problematika Kepemimpinan di Indonesia

Berbagai krisis yang mendera silih berganti, menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan hidup bangsa Indonesia. Krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial, krisis budaya hingga krisis agama. Persoalan kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, ketidakadilan, kekerasan hingga penyalahgunaan kekuasaan, seakan-akan tidak mau beranjak dalam kehidupan bangsa ini. Wajar apabila dalam berbagai hasil survey, Indonesia selalu saja menempati posisi terendah dalam hal kemajuan, dan posisi puncak dalam hal kemunduran.

Dalam bidang korupsi misalnya, pada tahun 2007 Indonesia menempati urutan ke-3 negara paling korup setelah Myanmar dan Kamboja, begitu juga halnya dengan kemiskinan dan kebodohan. Sebaliknya dalam bidang kemajuan ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan, Indonesia berada di nomor belakang.

Selain itu krisis lainnya yang paling nyata dihadapi bangsa Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Kita mengalami kegamangan dalam hal menentukan pemimpin yang tepat untuk negeri ini. Tentu saja pemimpin yang mampu mengeluarkan Indonesia dari berbagai krisis multidimensi ini. Beberapa kali pemilu dan pilpres telah digelar, namun selalu saja muncul perdebatan dalam menentukan pemimpin yang layak, sehingga perebutan posisi presiden dan wakil presiden kerap menjadi suguhan politik yang paling menyedot perhatian publik

Akibat sibuknya para elit membicarakan persoalan kursi dan kekuasaan, maka persoalan-persoalan pokok yang dihadapi bangsa ini menjadi terlupakan. Upaya untuk mencari jalan keluar dari krisis dan mewujudkan kesejahteraan rakyat, menjadi terabaikan dan hanya merupakan cita-cita semu. Padahal negeri ini sudah memenuhi syarat untuk disebut negara makmur bila dilihat dari potensi kekayaan sumber daya alam yang tersedia.

Alih-alih dikelola dengan baik dan mampu menyejahterakan rakyatnya, malah menjadi akar dan penyebab munculnya segala macam persoalan sosial, budaya dan ekonomi. Ketimpangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin, semakin melebar. Kekayaan yang melimpah ruah ini malah di obral dengan begitu murah kepada segelintir orang atau golongan saja.

Kekuasaan pasca reformasi memang semakin terbuka untuk diperebutkan. Ketika zaman orde baru, berbicara masalah suksesi merupakan sesuatu yang amat tabu dan menakutkan, namun sekarang orang boleh berharap untuk menjadi presiden atau wakil presiden, sepanjang memiliki dukungan politik dan finansial yang kuat, bahkan dengan pemilihan langsung rakyat memiliki daulat penuh untuk menentukan pemimpinnya.

Namun, setelah reformasi itu berjalan beberapa tahun, kepemimpinan yang ideal itu amat sulit diwujudkan. Kepemimpinan bangsa ini hanya dimanfaatkan oleh elit-elit tertentu sebatas untuk tercapainya kepentingan diri dan kelompoknya. Koalisi-koalisi dibangun hanya sekedar untuk bagi-bagi kekuasaan saja. Padahal, bila menyadari bahwa kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, mungkin setiap orang akan berhati-hati untuk memikulnya.

Kepemimpinan berbeda dengan seorang pemimpin karena hal itu merupakan sebuah sistem. Karena itu, aspek kerja sama, kolektivitas, dan keterpaduan merupakan sebuah keharusan dalam sebuah kepemimpinan. Kegagalan dalam kepemimpinan sering terjadi karena menganggap kepemimpinan sebagai sebuah kerja individual.

Padahal, di zaman modern, tidak ada satu karya atau produk muncul karena karya individual. Sebuah produk umumnya merupakan sebuah karya kolektif. Kita misalnya bisa melihat sebuah industri pesawat terbang, mesinnya dibuat di Inggris, sistem navigasinya dibuat di Jerman, sayapnya dibuat di Indonesia, dan lain-lain.

Meski bagian-bagian pesawat itu dibuat di berbagai negara, namun semuanya sudah diatur dengan tepat, sehingga begitu bagian-bagian pesawat tersebut selesai diproduksi, pabrik induk tinggal memasangnya.

Bagian-bagian pesawat itu dibuat dengan ketentuan-ketentuan yang ketat dan terukur sehingga ketika diintegrasikan semuanya pas dan tepat. Analog tersebut penting dikemukakan karena kita sering melihat kepemimpinan di Indonesia acap kali tidak berjalan sinkron dan harmonis dengan realitas yang dipimpinnya.

Silang pendapat antara para pemimpin dalam mencari solusi terhadap sebuah problem sering terjadi karena tidak adanya sistem kepemimpinan. Di era modern seperti ini, kepemimpinan individual sudah tidak sesuai dengan kompleksitas permasalahan yang dihadapi manusia.

Kasus banjir di Jakarta, misalnya bisa menjadi contoh betapa permasalahan banjir tersebut tidak mungkin bisa diselesaikan hanya pemerintah DKI, dalam hal ini Gubernur.

Masalah banjir Jakarta menggambarkan bahwa permasalahan lokal ternyata tidak bisa diselesaikan secara lokal. Tapi perlu diselesaikan dengan mengajak pihak-pihak lain yang terkait. Baik secara lokal, nasional, regional, maupun global untuk bekerjasama menyelesaikan permasalahan secara integratif dengan melihat problemnya secara whole system, keseluruhan.

Dengan pendekatan lokalitas dalam globalitas inilah, kita harus melihat konsep kebangsaan.

Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia yang tidak bisa dipisahkan. Kemajuan IT di dunia telah menghilangkan jarak antara satu titik lokasi dengan titik lokasi lainnya di muka planet bumi, bahkan dengan titik lokasi di jagat raya.

Tanpa melihat keterkaitan global dan universal itu, setiap solusi permasalahan di dalam negeri tidak bisa tuntas diselesaikan. Dengan perspektif itulah wawasan kebangsaan perlu dibangun. Saat ini bangsa Indonesia sudah bisa merasakan betapa besar, kaya dan luasnya negeri, ternyata tidak memberikan solusi mengatasi problem masyarakat.

Ketika pergerakan uang dan modal tidak dibatasi sekat-sekat antarnegara, maka kekayaan dan luasnya sebuah negara tidak lagi menjadi modal kompetitif untuk pembangunan sebuah bangsa. Kini, modal kompetitif tersebut adalah kualitas sumber daya manusia. Dengan tolok ukur inilah, kita mengukur sejauh mana kepemimpinan itu mempunyai wawasan kebangsaan.

Indonesia sendiri adalah negara besar yang nyaris lengkap. Penduduk besar, kekayaan alam besar dan secara geopolitik dan geostrategis juga menguntungkan dalam kancah kompetisi internasional. Akan tetapi, keuntungan-keuntungan tersebut belum termanfaatkan dengan baik.

Bahkan sebaliknya, menjebak Indonesia ke dalam situasi yang menimbulkan krisis. Salah satu penyebab krisis yang paling utama adalah korupsi. Korupsi di sini dalam pengertian luas, bukan hanya korupsi dalam keuangan negara, tapi juga kedisiplinan, waktu, sumpah setia, tekad dan lainnya.

Akar dari masalah multikorupsi tersebut sebetulnya adalah retaknya moral. Bangsa Indonesia terkikis moralnya karena ada ketidakseimbangan atau ketidakadilan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini ketidakadilan meruak di mana-mana. Mulai dari sistem distribusi kekayaan, penggajian di instansi swasta, lembaga eksekutif dan legislatif, hingga pemanfaatan kekayaan. Ketidakadilan itulah yang menimbulkan problem besar.

Kepemimpinan masa depan di era yang penuh transparansi karena adanya kemajuan tekhnologi informasi yang luar biasa ini, menuntut adanya sistem yang menjamin terselenggaranya keadilan. Di dalam negeri, kepemimpinan model seperti itu harus dibangun melalui pendekatan intelektual dan moral, yang disertai dengan kemampuan menguasai berbagai keterampilan yang diisyaratkan oleh kepemimpinan global.

Dalam konteks inilah, sharing leadership harus diutamakan ketimbang individual leadership. Seorang pemimpin yang berhasil di masa depan akan bergerak secara terintegrasi dalam rangka membangun manusia, memberdayakan manusia, mendorong dialeg di masyarakat, memacu kreativitas rakyat, mampu mengantisipasi perubahan sosial-budaya, mampu melakukan negosiasi yang efektif dan konstruktif untuk kepentingan bangsa.

Meminjam filsafat Tao, kepemimpinan harus bersifat luwes tapi kuat seperti air. Manusia tidak akan dapat membendung dinamika perubahan dunia. Maka yang harus dilakukan kepemimpinan yang berwawasan dalam menghadapi krisis multidimensi dan tantangan global di abad 21 ini adalah berjalan sesuai dinamika global, sambil mencari strategi untuk memanfaatkan dinamika global itu untuk kepentingan nasional.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More