Para remaja saat ini cenderung lebih menyukai pergaulan bebas tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan semakin menurun. Kepedulian terhadap lingkungan sudah jarang kita temukan. Budaya hedonisme, sekulerisme, matrealistik hingga individualisme semakin melaju kencang seiring laju globalisasi yang semakin tak terbendung. Sementara kepedulian sosial, sopan santun serta tatanan norma kini telah menghilang bak ditelan bumi. Dari kalangan atas, korupsi, kolusi serta nepotisme telah mendarah daging di tubuh para petinggi bangsa ini. Tampak jelas dari berbagai contoh di atas bahwa negara kita ini sedang mengalami proses demoralisasi yang sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Di mana anggapan "aturan atau norma ada hanya untuk dilanggar" sudah menginternalized dalam diri setiap masyarakat.
Semua fakta tadi seolah mengisyaratkan agar pembentukan serta pembangunan moral sudah sangat di butuhkan di kalangan masyarakat bumi pertiwi ini. Dalam masalah ini, salah satu media yang sangat efektif dalam mendukung pembentukan karakter dan moral ialah melalui pendidikan. Karena melalui pendidikan, karakter seorang akan di pupuk berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang ada di dalam masyarakat. Sehingga akan terlahir bibit-bibit penerus bangsa yang mempunyai sebuah standar moral yang telah diwariskan dari para pendiri bangsa ini.
Semua fakta tadi seolah mengisyaratkan agar pembentukan serta pembangunan moral sudah sangat di butuhkan di kalangan masyarakat bumi pertiwi ini. Dalam masalah ini, salah satu media yang sangat efektif dalam mendukung pembentukan karakter dan moral ialah melalui pendidikan. Karena melalui pendidikan, karakter seorang akan di pupuk berdasarkan nilai-nilai kebenaran yang ada di dalam masyarakat. Sehingga akan terlahir bibit-bibit penerus bangsa yang mempunyai sebuah standar moral yang telah diwariskan dari para pendiri bangsa ini.
Dalam media pendidikan, guru mempunyai peranan yang paling vital. Bisa dikatakan berhasil atau tidaknya sebuah pendidikan moral dan karakter tergantung dari apa yang di ajarkan guru terhadap muridnya. Oleh sebab itu seorang guru haruslah mempunyai sebuah kepribadian atau karakter yang baik agar dapat di tiru oleh para muridnya. Karena seorang murid akan lebih cenderung untuk meniru orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini pemerintah juga memegang peranan besar dengan memilih guru-guru yang mempunyai kepribadian baik agar dapat mendidik calon penerus bangsa.
Tapi dalam perjalanannya, tak semua guru mempunyai kepribadian yang sesuai dengan harapan. Para guru kini lebih mementingkan nilai akademis daripada nilai tingkah laku. Sebagai contoh, dari beberapa tahun penyelenggaraan UNAS, masih sangat banyak didapati guru yang membocorkan soal ujian kepada para siswa agar seluruh siswanya mendapatkan nilai yang sempurna. Perbuatan ini dilakukan semata-mata hanya untuk menjaga pamor si guru agar di cap sebagai guru yang sukse karena berhasil membuat seluruh muridnya lulus walaupun dengan cara yang tidak di benarkan.
Tapi dalam perjalanannya, tak semua guru mempunyai kepribadian yang sesuai dengan harapan. Para guru kini lebih mementingkan nilai akademis daripada nilai tingkah laku. Sebagai contoh, dari beberapa tahun penyelenggaraan UNAS, masih sangat banyak didapati guru yang membocorkan soal ujian kepada para siswa agar seluruh siswanya mendapatkan nilai yang sempurna. Perbuatan ini dilakukan semata-mata hanya untuk menjaga pamor si guru agar di cap sebagai guru yang sukse karena berhasil membuat seluruh muridnya lulus walaupun dengan cara yang tidak di benarkan.
Pemerintah juga patut kita salahkan. Mengapa? Karena merekalah yang memilih guru-guru yang akan mengajar.para murid. Sebuah indikasi yang berisi tentang suap menyuap dalam penerimaan guru bisa saja dapat terbukti. Mengingat dari perilaku guru yang jauh dari harapan. Mungkin saja tes menjadi guru hanyalah sebuah legalitas semata. Bukan benar-benar ajang perekrutan guru berkualitas. Dan yang terpenting bagi para penyelenggara seleksi adalah UANG. Siapa yang paling berani membayar dengan harga yang paling tinggi, maka ialah yang akan diterima menjadi seorang guru walaupun ia adalah seorang pemabuk, pezinah ataupun pencuri.
Jadi, bagaimanakah pendidikan moral akan berlangsung jika para guru tidak menjalankan amanahnya sebagai komponen penting dalam pendidikan itu sendiri? Semua itu bisa terjawab apabila pemerintah selaku penyaring guru dapat menjalankan sistem penerimaan guru secara benar dan tepat. Tanpa ada penyuapan di dalamnya.
Sesungguhnya kami telah bosan menjadi korban permainan kalian!
Written by : Kurniagung Nur Cahyono - SMA Islam Terpadu Abu Bakar (empat orang)







