Sebenarnya saya tidak suka menulis sebuah artikel yang berbau agama. Karena agama sudah pasti benarnya sehingga tak perlu untuk dibahas ataupun mendiskusikannya. Kita tentu saja tinggal mengikuti ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Tapi ada suatu hal yang menggelitik dan membuatku tertarik untuk membahasnya. Yaitu kepatuhan sekelompok orang ataupun negeri kepada ulil amri atau pemerintah dengan kata lain pemimpin di antara mereka.
Kita tahu di negeri kita ini terdapat banyak sekali ormas islam. Setiap mereka mempunyai pandangan sendiri-sendiri dalam memecahkan suatu perkara. Maka tak jarang suatu ormas dengan yang lainnya bertolak belakang mengenai pandangan terhadap suatu perkara. Dan di sinilah sebenarnya peran ulil amri sebagai "jalan tengah" untuk memecahkan suatu perkara ataupun perbedaan pandangan. Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS An Nisa' ayat ke 59 yang berbunyi "Wahai mereka yang beriman, taatilah ALLAH, taatilah Rasul dan yang mempunyai kuasa di kalangan kamu (kaum muslimin)." Dalam ayat tersebut sudah jelas jika seorang muslim harus taat kepada Allah, kemudian Nabi Muhammad SAW, setelah itu jika masih terdapat perbedaan baru di kembalikan kepada ulil amri untuk memecahkan suatu perkara. Dan saat ini kondisi yang memungkinkan hanyalah mengembalikan suatu perkara kepada ulil amri atau pemerintah. Karena sudah tak ada rasul setelah nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, ulil amri yang berperan di negara kita adalah Kementrian Agama Republik Indonesia sebagai wakil pemerintah dalam bidang keagamaan. Namun, saat ini masyarakat lebih cenderung mematuhi pimpinan ormas yang mereka ikuti. Bukan lagi kepada pemerintah atau ulil amri yang ada.
Contoh sederhana, kita ambil dari peristiwa yang baru saja kita lalui. Yakni idul fitri. Kita bisa lihat di sekeliling kita. Apakah hari raya jatuh dalam sehari ataukah jatuh dalam 2 hari? Dari fakta yang ada di lapangan, negeri kita masih terdapat perbedaan kriteria penentuan tanggal 1 syawal yang mengakibatkan perbedaan jatuhnya hari raya idul fitri. Ada ormas yang melaksanakan sholat idul fitri pada hari selasa, tapi ada juga yang melaksanakannya pada hari rabu. Sedangkan pemerintah sendiri menetapkan jatuhnya hari raya pada rabu. Jadi, apakah ormas yang melaksanakan sholat idul fitri di hari selasa itu salah? Jawabannya tentu saja tidak. Karena mereka mempunyai kriteria sendiri dalam menetapkan jatuhnya 1 syawal sehingga menyebabkan 1 syawal jatuh pada hari selasa. Lalu siapa yang salah? Menurut saya tak ada yang salah. Karena semua mempunyai dasar sendiri untuk menentukan jatuhnya hari raya. Tapi alangkah baiknya jika seluruh ormas islam menetapkan jatuhnya 1 syawal secara bersama-sama dengan pemerintah agar tak terjadi perbedaan. Karena, seperti firman Allah tadi bahwa kita harus mengembalikan semua perbedaan kepada ulil amri untuk di pecahkan. Dan kita sebagai rakyat harus mematuhi keputusan pemimpin yang insya allah telah bijak dalam memutuskan suatu perkara.
Dari peristiwa itu, saya mempunyai sebuah hipotesis mengapa negeri ini belum bisa maju. Jika pemerintah atau pemimpinnya saja tidak di taati, lalu bagaimana negara ini bisa maju? Sebagai rakyat, kita seharusnya mematuhi segala perintah pemimpin selama tidak melanggar norma ataupun hukum-hukum yang ada. Karena para pemimpin tentu saja sudah membuat program yang akan dijalankan dengan tujuan kemajuan bangsa. Semua program itu tak akan berarti jika para rakyatnya saja tidak peduli. Mungkin pemerintah kita sekarang sedang berada dalam keterpurukan. Sehingga tugas kita tak lain adalah memberikan nasihat ataupun kritikan agar mereka bisa sadar. Bukan hanya dengan menghujat tanpa argumen dan tak memberikan solusi secara konkret.
Sekali lagi, semua tulisan di atas hanyalah opini pribadi saya dari sebuah contoh nyata yang ada. Secara pribadi, saya tidak tahu apakah hipotesis tersebut benar atau tidak. Tapi saya mencoba untuk memaparkan semua opini saya sehingga menjadi seperti ini. Benar atau salahnya hanya Allah lah yang tau. Saya juga meminta maaf jika ada orang atau kelompok yang merasa tersinggung. Saya tak bermaksud menyudutkan individu ataupun kelompok tertentu.
Written by : 4 orang








0 komentar:
Posting Komentar